Polbeng Beri Solusi Persoalan Banjir di Pedesaan

dibaca: 4146 kali
Oleh: Admin Pendidikan | Selasa, 12 Desember 2017 - 12:20:28 WIB

Polbeng Beri Solusi Persoalan Banjir di Pedesaan

Tim Pengabdi Polbeng Dari Jurusan Teknik Sipil

BENGKALIS - Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Bengkalis bersama  mitra Karang Taruna Desa Perapat Tunggal sejak 20 November sampai 6 Desember 2017 melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai bukti keseriusan perguruan tinggi dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk pengabdian dan penelitian untuk menjawab persoalan yang ada di tengah masyarakat.

 

Tim Pengabdi Polbeng mencari penyebab masalah banjir (genangan) yang selama ini sangat mengganggu dan merugikan masyarakat khususnya petani. Tim yang terdiri dari Alamsyah, ST., M.Eng sebagai Ketua Tim, Oni Febriani, ST.,MT dan Zulkarnain, ST.,MT sebagai anggota.

 

Seperti yang dikatakan Alamsyah “Pengabdian ini dilakukan melalui beberapa tahapan antara lain yaitu survey ke daerah genangan meliputi tata guna lahan, kondisi tanah, kondisi drainase eksisting sebagai media penyaluran air dan data curah hujan”. Data yang diperoleh di lapangan kemudian dihitung menggunakan rumusan yang ada dan hasil perhitungan diharapkan bisa menunjukkan penyebab masalah banjir sehingga segera menemukan pemecahan masalah yang terjadi.

 

Selain itu, Zulkarnain selaku anggota tim menambahkan penelitian ini ditinjau dari dua aspek ; Pertama, aspek lingkungan “Kondisi drainase di lapangan tidak bersih terdapat sedimentasi, sampah rumah tangga dan dinding saluran ditumbuhi rerumputan, hal ini sangat berpengaruh terhadap kapasitas daya tampung air hujan dan limbah rumah tangga yang disalurkan ke saluran tersebut”. Kedua,  Aspek hidrologi data curah hujan, tata guna lahan, daerah pengaliran air juga memberikan pengaruh terhadap aliran air hujan, imbuhnya.

 

Penelitian ini juga menghimpun data curah hujan yang diperoleh dari stasiun hujan, dimana adanya curah hujan yang tinggi 32,64 mm/jam pada tanggal 08 November 2017, data ini diambil sebagai acuan perhitungan debit air hujan yang dihasilkan pada daerah genangan, setelah dihitung debit yang dihasilkan adalah 0,2078 m3/jam. Dari aspek hidrolika diperoleh data bahwa saluran tidak beraturan (dengan dinding tanah di setiap segmen potongan melintang jalan) yang diukur pada setiap STA, Sehingga diambil rata-rata penampang saluran yaitu 0,4875 m2. Kecepatan aliran di lokasi adalah 0,1 m/s, sehingga debit saluran yang bisa ditampung kurang dari 0,20878 m3/jam. Jika dihitung maka jumlah debit kapasitas tampung saluran dengan debit hujan yang timbul tidak mampu menampung debit hujan yang terjadi, sehingga perlu adanya perencanaan dimensi saluran yang efektif yang terbuat dari beton agar bisa menampung air hujan yang timbul dan mudah untuk perawatannya ke depan.

 

Adapun salah satu solusi yang dapat diberikan adalah mendesain saluran yang efektif, kemudian memberikan pengarahan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga saluran dari sampah dan endapan supaya air dapat mengalir dengan lancar dan mampu menampung air hujan yang datang pada saat musim hujan tiba. Solusi lainnya adalah dengan penambahan gorong-gorong pada daerah yang sering terjadi genangan, hal ini secara cepat mengurangi genangan karena air yang ada pada cathment area dapat langsung dialirkan ke saluran sisi selatan dan selanjutnya ke laut.

 

Terakhir, ada langkah lain yaitu membuat lobang pori (bio pori) agar air yang mengalir dipermukaan tanah bisa disalurkan langsung ke dalam tanah tanpa melalui proses alami, hal ini juga akan membantu mengurangi waktu air menggenang di permukaan tanah. Namun hal ini perlu dilakukan survey muka air tanah terlebih dahulu, mengingat daerah dataran datar memiliki kecenderangan muka air tanah yang tinggi. “Akhirnya, dari hasil kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu referensi dalam hal pengembangan infrastruktur di Desa Prapat Tunggal”, tutup Alam menambahkan.

  Print Berita

0 Komentar

Tulis Komentar

Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu. Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Komentar Facebook